dirgahayu

catatan tentang teknologi dan pendidikan

  • Categories

  • Archives

  • Meta

Tujuan Pembelajaran - tambahan

Posted by dirgahayu on September 8th, 2008

Seri Mengajar dan Pembelajaran di Pendidikan Tinggi (2)

Dalam menetapkan tujuan pembelajaran, penggunaan kata kerja aktif yang menyatakan suatu perilaku haruslah sesuai dengan level tujuan yang ingin diraih dan bisa diukur. Berikut ini beberapa contoh kata kerja yang bisa digunakan di masing-masing level tujuan.

Level mengetahui:
menyebutkan, menyampaikan, membuat skema, menyatakan rumus, menjelaskan, membuat daftar, dsb.

Contoh: mampu menyebutkan beberapa protokol aplikasi…

Level memahami:
menjelaskan, merangkum, memberikan contoh yang benar dan yang salah, memilih, mengelompokkan, dsb.

Contoh: mampu menjelaskan cara kerja eksekusi instruksi mikroprosesor…

Level menerapkan:
memilih rumus yang tepat, menerapkan prosedur, merancang berdasarkan prosedur, menyelesaikan masalah baku, mengukur, menunjukkan, dsb.

Contoh: mampu menerapkan ontologi sebagai representasi pengetahuan… 

Level menelaah:
menganalisis, membandingkan, membedakan, dsb.

Contoh: mampu membandingkan beberapa algoritma deteksi tabrakan…

Level menyusun:
menyimpulkan, merancang, menyusun, dsb.

Contoh: mampu merancang sistem informasi…

Level menilai:
mengevaluasi, menalar, memberi komentar, dsb.

Contoh: mampu mengevaluasi rancangan arsitektur sistem terdistribusi…

Posted in pembelajaran | No Comments »

Tujuan Pembelajaran

Posted by dirgahayu on September 8th, 2008

Seri Mengajar dan Pembelajaran di Pendidikan Tinggi (2)

Salah satu syarat keberhasilan proses pembelajaran adalah kejelasan tujuan. Tujuan yang jelas membantu pengajar dalam 

  • berkomunikasi dengan diri sendiri, dengan rekan pengajar, dan -yang paling penting- dengan para pelajar,
  • menetapkan materi bahasan dan urutan penyampaiannya,
  • menentukan media dan kegiatan yang paling tepat dalam pembelajaran,
  • menetapkan cara evaluasi keberhasilan proses pembelajaran dan juga efektifitas pengajaran.

Ada beberapa macam tujuan pembelajaran. Dalam konteks pengajaran, tujuan-tujuan yang paling penting adalah tujuan keseluruhan pendidikantujuan suatu matakuliah, dan tujuan suatu tatapmuka. Tujuan keseluruhan pendidikan bersifat umum, sedangkan tujuan tatapmuka lebih khusus. Serangkaian tatapmuka membentuk satu matakuliah, maka tujuan tiap tatapmuka harus berperan dalam mencapai tujuan matakuliah. Demikian juga, serangkaian matakuliah membentuk keseluruhan pendidikan, maka tujuan tiap matakuliah harus berperan dalam mencapai tujuan keseluruhan pendidikan.

Taruh kata seorang pengajar telah mengetahui tujuan matakuliah yang harus ia ajarkan. Ia harus menentukan tujuan yang harus dicapai di tiap tatapmuka. Satu tujuan matakuliah mungkin bisa dicapai dalam satu tatapmuka, sedangkan tujuan yang lain mungkin memerlukan beberapa kali tatapmuka. 

Dua pertanyaan yang bisa membantu pengajar menetapkan tujuan tatapmuka adalah:

  • Tujuan matakuliah mana yang ingin dicapai dalam tatapmuka ini?
  • Pada (aspek) tujuan matakuliah mana pelajar harus ditingkatkan kemampuannya dalam tatapmuka ini?

Dalam menentukan tujuan, ada dua macam pendekatan yang bisa dipakai.

Satu, tujuan berorientasi kebutuhan.
Pengajar terlebih dulu mempelajari kebutuhan pekerjaan di masa depan: Pekerjaan apa yang akan dilakukan oleh pelajar di masa depan? Prosedur apa yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan tersebut? Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, pengajar dapat menentukan prosedur yang harus diajarkan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menjalankan prosedur tersebut secara benar. Tujuan matakuliah dan tujuan tiap tatapmuka diturunkan dari kebutuhan-kebutuhan ini.

Dua, tujuan berorientasi isi.
Pengajar mempunyai gagasan tentang isi matakuliah dan kemungkinan pemanfaatannya. Berdasarkan gagasan itu, pengajar menentukan tujuan matakuliah dan tujuan tiap tatapmuka. Pada pendekatan ini, kebutuhan masa depan bisa terabaikan karena (i) matakuliah tidak mencakup pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan di masa depan, (ii) matakuliah malah mengajarkan bahasan yang tak diperlukan, atau (iii) pengajar jadi tidak fokus pada penerapan pengetahuan. 

Akan tetapi, pendekatan ini masih bisa dipakai jika

  • tujuan matakuliah cocok dengan pekerjaan di masa depan,
  • isi matakuliah berfokus pada penggunaan pengetahuan, bukan pada pengetahuan itu sendiri.

Di tingkat PT, kemampuan yang dikembangkan adalah kemampuan kognitif atau kemampuan membuktikan pernyataan. Dalam mengembangkan kemampuan kognitif, ada enam level tujuan yang bisa diraih. 

  1. mengetahui: mampu menyampaikan ulang pengetahuan seperti yang diajarkan.
  2. memahami: mampu menyampaikan pengetahuan dengan cara sendiri.
  3. menerapkan: mampu menerapkan pengetahuan dalam situasi yang tepat.
  4. menelaah: mampu memecah masalah rumit menjadi masalah-masalah penyusunnya yang lebih sederhana.
  5. menyusun: mampu menggabungkan bagian-bagian menjadi suatu kesatuan dengan struktur atau pola baru.
  6. menilai: mampu memberikan penilaian yang masuk akal atas suatu pernyataan.

Dua level tujuan pertama (mengetahui dan memahami) bisa diraih pada tahap orientasi dalam proses pembelajaran. Level-level tujuan yang lain diraih pada tahap aplikasi dan evaluasi.

Suatu tujuan semestinya dirumuskan dalam pernyataan yang terukur. Untuk itu, tujuan harus mengandung:

  • kata kerja aktif yang menyatakan suatu perilaku,
  • bahasan yang dirujuk,
  • kondisi (misal: topik, waktu, buku), dan
  • hasil minimal.

Contoh: Di akhir tatapmuka, pelajar bisa menyebutkan empat metode kriptografi yang bisa digunakan untuk mendeteksi keutuhan pesan.

  • perilaku: menyebutkan
  • bahasan: metode kriptografi
  • kondisi: pendeteksian keutuhan pesan
  • hasil minimal: empat metode.

Acuan primer
Rowntree, D. Teaching through Self-instruction, Kogan Page, New York, USA, 1986.
Terlouw, C. De Fundes-procedure voor het ontwikkelen van onderwijs, University of Twente, The Netherlands, 1989.
Kallenberg, A.J., van der Grijspaarde, L., ter Brake, A., van Horzen, C.J. Leren (en) doceren in het hoger onderwijs, Lemma, Utrecht, The Netherlands, 2005.

Posted in pembelajaran | 5 Comments »

Mengajar dan Pembelajaran – bagian 2, habis

Posted by dirgahayu on September 7th, 2008

Seri Mengajar dan Pembelajaran di Pendidikan Tinggi (1)

Dalam tiap tahap proses pembelajaran (baca di sini), ada instruksi-instruksi yang berfungsi untuk mendorong proses pembelajaran. Fungsi semacam ini disebut fungsi instruksional (instructional function). Hubungan antara tahapan proses pembelajaran dan fungsi instruksionalnya adalah sebagai berikut.

Camkan bahwa semua fungsi harus dilakukan (tidak harus oleh si pengajar). Tak masalah oleh siapa atau dengan apa fungsi-fungsi tersebut dilakukan..

Prasyarat

  1. memotivasi pelajar,
  2. memulai pembelajaran di level masuk para pelajar,
  3. menjelaskan tujuan pembelajaran.

Tahap orientasi (fungsi: presentasi)

  1. menyajikan pengetahuan,
  2. menyajikan prosedur penerapan,
  3. menunjukkan manfaat pengetahuan; dengan memberikan contoh, syarat penerapan, dan hubungan dengan bahasan lain. 

Tahap aplikasi (fungsi: praktek)

  1. memberi kesempatan pada pelajar untuk menerapkan pengetahuan pada masalah yang mencukupi,
  2. memberi umpanbalik mengenai penerapan pengetahuan dan penggunaan prosedur.

Tahap evaluasi (fungsi: menguji hasil proses pembelajaran)

  1. mencari tahu apa hasil pembelajaran yang telah diperoleh,
  2. memberi kesempatan pada pelajar untuk  membuktikannya (antara lain dengan cara: ujian, tugas laporan, pemberian saran dsb.),
  3. membandingkan hasil evaluasi dengan patokan tertentu,
  4. membicarakan hasil ujian dengan para pelajar.

Tahap pelanjutan (fungsi: memberi umpanbalik atas hasil ujian mengenai hal-hal yang sudah dikuasai dan yang masih kurang).

Ada banyak cara yang dapat digunakan untuk menjalankan fungsi-fungsi instruksional di atas. Berikut ini beberapa contoh yang bisa dilakukan.

Memotivasi pelajar
hubungkan bahasan dengan pengalaman pribadi; berikan pertanyaan atau pilihan berkenaan dengan masalah nyata; aktifkan pelajar dengan bekerja kelompok pada suatu tugas; gunakan beragam metode dan media. 

Memulai pembelajaran di level masuk para pelajar:
rangkum pelajaran sebelumnya; tanyakan pengalaman atau penguasaan terhadap bahasan; lakukan pre-test dan berikan saran jika masih ada kekurangan.

Menjelaskan tujuan pembelajaran:
jelaskan tujuan pembelajaran, misal: “setelah mengikuti kuliah ini, kalian harus bisa menjawab pertanyaan…”; tampilkan soal ujian sebelumnya.

Menyajikan pengetahuan: 
sediakan materi bahasan yang tertulis baik; sajikan istilah atau definisi secara jelas, beserta hubungannya dengan definisi lain; sajikan skema untuk mempermudah pemahaman; berikan tugas membaca yang disertai dengan pengerjaan soal-soal; sajikan rangkuman bahasan. 

Menyajikan prosedur penerapan:
sajikan prosedur dan diskusikan; tunjukkan penggunaan prosedur dalam penyelesaian masalah.

Menunjukkan manfaat pengetahuan:
berikan contoh penerapan; beri pelajar kesempatan untuk memikirkan contoh masalah. 

Memberi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan:
sediakan masalah yang bisa diselesaikan dalam batasan waktu tertentu; beri pekerjaan rumah (PR); berikan tugas menulis makalah.

Memberi umpan balik:
berikan umpanbalik pada penggunaan prosedur; berikan jawaban yang benar; dukung pelajar dalam mengerjakan tugas; evaluasi PR.

Menguji hasil proses pembelajaran:
evaluasi penguasaan pengetahuan dan penggunaan prosedur; bandingkan dengan patokan dan tentukan apakah pelajar telah cukup menguasai bahasan.

Berdasarkan hasil evaluasi, pelajar memerlukan saran belajar. Saran ini berguna untuk menghindarkan pelajar mempelajari lagi bahasan secara salah sebagaimana mereka lakukan sebelum evaluasi. Saran juga penting agar pelajar tak lagi mengulangi hal-hal yang sudah dikuasainya.

Acuan primer
Smuling, E.B., Brants, J., Pilot, A. Orientatie op leren en onderwijs, HOR, Wolters-Noordhoff, The Netherlands, 1990. 

Posted in pembelajaran | 1 Comment »

Mengajar dan Pembelajaran – bagian 1

Posted by dirgahayu on September 7th, 2008

Seri Mengajar dan Pembelajaran di Pendidikan Tinggi (1)

Fokus tulisan ini adalah pembelajaran. Mengapa? Karena inti pendidikan adalah pembelajaran para pelajar, bukan pengajaran oleh sang pengajar. Banyak hal menentukan keberhasilan proses pembelajaran; dan pengajaran hanya merupakan salah satu faktornya. 

Hasil proses pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua hal. 

Pertama, penguasaan pengetahuan dan kemampuan penerapannya. 
Terutama di perguruan tinggi (PT), sekedar menguasai pengetahuan tidaklah cukup. Pelajar bisa memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber (antara lain: buku dan internet). Penguasaan pengetahuan harus dibarengi dengan kemampuan penerapan pengetahuan itu untuk menyelesaikan masalah (nyata). Pemanfaatan dan penerapan pengetahuan harus menjadi inti pendidikan di PT. Setiap pengetahuan yang diajarkan harus disertai pengajaran akan kapan dan bagaimana menerapkannya.

Kedua, perolehan hasil dan pelaksanaan prosedur. 
Pendidikan di PT menekankan pada pelaksaanan prosedur secara benar ketimbang pada perolehan hasil terhadap masalah yang dihadapi. Hasil yang benar tak menjamin pelajar mampu menyelesaikan masalah serupa. Perolehan hasil yang benar memang penting, tetapi lebih penting lagi adalah kemampuan pelaksanaan prosedur secara benar.

Ada empat tahap proses pembelajaran. 

Tahap 1 atau orientasi: mempelajari pengetahuan dan prosedur penerapannya. Tahap ini bertujuan agar pelajar memahami pengetahuan dan melihat beberapa contoh penerapannya. Pelajar tahu cara penerapkan pengetahuan, tetapi belum mencobanya sendiri.

Tahap 2 atau aplikasi: mempelajari cara menerapkan pengetahuan baru. Pelajar mulai menerapkan pengetahuan pada masalah yang sederhana, kemudian menaik ke masalah yang lebih sulit. Perlu diingat bahwa adalah wajar jika pelajar membuat kesalahan. Adalah peran pengajar -dan juga buku- untuk membantu pelajar agar penyelesaian masalah menjadi benar, efisien dan lengkap.

Tahap 3 atau evaluasi: memperoleh kejelasan hasil pembelajaran. Setelah dirasa cukup memahami pengetahuan dan prosedur penerapannya, kemampuan pelajar harus dievaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan apakah ada kekurangan yang masih harus dicukupi.

Tahap 4: melanjutkan proses pembelajaran. Pelajar melanjutkan proses pembelajaran dengan mengulang tahap 1, 2 atau 3, untuk mencukupi apa yang dinilai masih kurang.


Tahapan proses pembelajaran

Tiga prasyarat agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik adalah:

  1. Pelajar termotivasi mempelajari bahasan yang akan disampaikan.
  2. Pelajar bisa mempelajarinya karena pembelajaran dimulai dari level masuk para pelajar.
  3. Pelajar mengetahui tujuan pembelajaran.

Yang dimaksud dengan level masuk mencakup (1) pengetahuan yang telah dimiliki dan (2) minat dan pengalaman terhadap bahasan di dalam kehidupan sehari-hari.  

Bersambung.

Posted in pembelajaran | No Comments »

Seri: Mengajar dan Pembelajaran di Pendidikan Tinggi

Posted by dirgahayu on September 7th, 2008

Pengantar

Pekan lalu dan pekan depan, selama lima hari aku berkesempatan mengikuti kursus “Teaching and Learning in Higher Education” alias “Mengajar dan Pembelajaran di Pendidikan Tinggi”. Kursus ini diadakan oleh University of Twente (UT) bagi para pengajar pemula, seperti asisten profesor atau pelajar doktoral. Mumpung ada kesempatan, dan gratis pula, dengan semangat aku ikut mendaftarkan diri. 

Kursus ini berfokus pada penyampaian satu topik bahasan dalam satu tatap muka, beserta semua kegiatan yang berkenaan dengannya. Bagaimana cara menyampaikan materi agar bisa benar-benar dikuasai oleh para siswa. Hal yang praktis tetapi sangat berperan dalam keberhasilan proses besar pendidikan.

Dalam beberapa tulisan ke depan, aku tulis catatan-catatanku tentang inti muatan kursus tersebut. Semoga bermanfaat bagi para pembaca. Bilamana ada kesalahan atau penyimpangan, aku berharap pembaca, terutama para ahli pendidikan, sudi meluruskannya dengan memanfaatkan fasilitas komentar di blog ini. Harap maklum, aku tak punya latar belakang ilmu pendidikan atau sejenisnya :-)

Catatan: 
Menurutku, apa yang terkandung dalam tulisan ini tak hanya berlaku di pembelajaran di pendidikan tinggi, tetapi juga bisa berlaku untuk pendidikan menengah atau non-formal (kursus, tutorial, workshop, dsb.). Maka aku gunakan istilah pengajar untuk mewakili dosen, guru, instruktur dsb; dan pelajar untuk mewakili mahasiswa, siswa, peserta dsb.

Posted in pembelajaran | No Comments »

e-Learning: Dua Pelajaran dari Australia

Posted by dirgahayu on July 31st, 2008

Tulisan ini dibuat pada tanggal 9 April 2008.

Dalam tiga pekan ini, ada seorang peneliti tamu yang bekerja di ruang kerjaku. Beliau bernama Christine, seorang pengajar dan peneliti dari School of Information Systems, Technology and Management, The University of New South Wales (UNSW), Australia. Selama di University of Twente (UT), Christine meneliti dampak penggunaan sistem e-learning bagi kemajuan studi mahasiswa di UT (bukan mengenai sistemnya). Setelah itu, beliau akan menuju Italia untuk melakukan hal yang serupa. Lingkup penelitian besarnya adalah perbandingan dampak penggunaan sistem e-learning di Eropa dan di Australia. Penelitiannya berfokus pada penggunaan sistem e-learning di sekolah atau fakultas bisnis.

Kami sempat berbincang tentang temuannya mengenai dampak pemanfaatan sistem e-learning di Australia.

Christine membagi sampel penelitian menjadi dua kelompok, yakni mahasiswa undergraduate dan mahasiswa postgraduate. Temuannya menyatakan bahwa mahasiswa undergraduate menganggap bahwa sistem e-learning tidak memudahkan mereka. Sebaliknya, mahasiswa postgraduate merasa sistem e-learning sangat membantu kemajuan studi mereka. Setelah ditelusur lebih jauh, mayoritas mahasiswa undergraduate ternyata adalah orang Australia sendiri dan mayoritas mahasiswa postgraduate adalah orang asing, khususnya dari Asia (termasuk dari Indonesia, kali ya :-)

Aku semakin tertarik: mengapa orang asing (bukan Australia) merasa terbantu dengan sistem e-learning? Ada dua faktor penyebabnya, tutur Christine.

Yang pertama, faktor bahasa.
Mahasiswa asing datang ke Australia dengan berbekal nilai TOEFL atau IELTS. Nilai TOEFL atau IELTS yang mencukupi tidak otomatis menjadikan seseorang lancar berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Bisa jadi komponen nilai Reading atau Writing-nya tinggi, tetapi komponen nilai Listening atau Speaking-nya pas-pasan. Mahasiswa seperti ini akan merasa kesulitan mengikuti kuliah di kelas dan bertanya jika ia tak memahami apa yang disampaikan oleh si pengajar. Di sinilah sistem e-learning berperan. Mahasiswa bisa mendapatkan bahan kuliah tertulis dan bertanya kepada pengajar secara tertulis. Sistem e-learning memungkinkan mahasiswa berinteraksi lebih banyak dengan pengajarnya. Tentu dengan anggapan bahwa si pengajar bersedia melayani pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswanya :-)

Berdasarkan temuan ini, Christine menyarankan bahwa “jika suatu perguruan tinggi berkeinginan menerima mahasiswa asing, maka sistem e-learning adalah suatu kebutuhan”, terlepas dari bahasa pengantar yang digunakan. Taruh kata, semua universitas di Perancis menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa pengantarnya. Jika suatu universitas ingin menerima mahasiswa asing, maka universitas tersebut bisa mengibarkan keberadaan sistem e-learning-nya sebagai salah satu daya tarik kepada para calon mahasiswa dari luar Perancis.

Program studi yang memproklamirkan diri sebagai “program internasional” pun harus didukung sistem e-learning. Yang dimaksud “program internasional” adalah program studi berpengantar salah satu bahasa pergaulan internasional (biasanya, bahasa Inggris) yang diselenggarakan di negara bukan berbahasa Inggris. Beberapa universitas di Indonesia, termasuk UII, telah menawarkan program internasional seperti ini. Sudahkah mereka mempunyai dukungan sistem e-learning? Siapkah pengajar berinteraksi dengan mahasiswa melalui sistem e-learning?

Yang kedua, faktor budaya.
Latar belakang budaya, khususnya budaya Asia, menjadikan mahasiswa menjaga jarak dengan pengajarnya, dan juga sebaliknya. Keberadaan jarak seperti ini menjadikan mahasiswa Asia sungkan berinteraksi langsung dengan pengajarnya. Akibatnya, studi si mahasiswa tak bisa maju secara maksimal. Sistem e-learning bisa dimanfaatkan untuk mengurangi jarak tersebut, meski mungkin tak mampu menghilangkannya. Sistem e-learning bisa menjadi jembatan interaksi antara mahasiswa dan pengajar. Tentu saja, para pengajar juga harus bersedia mengurangi jarak yang ada.

Dua pelajaran kupetik dari penelitian Christine.

Banyak universitas berlomba menerapkan sistem e-learning. Sudahkah hal itu dibarengi dengan kesiapan di sisi manusia, khususnya mahasiswa dan pengajar?

Posted in teknologi pendidikan | 1 Comment »

Pertandingan program cerdas

Posted by dirgahayu on July 31st, 2008

Tulisan ini dibuat pada tanggal 14 November 2007

Indonesia sebenarnya memiliki sumberdaya manusia di bidang teknologi informasi yang mumpuni. Sekedar bukti nyata, mahasiswa Indonesia belum lama ini menjadi salah satu jawara dalam TopCoder Collegiate Challenge 2007. Tahun sebelumnya, di Google Code Jam, mahasiswa asal Indonesia menjuarai Google Code Jam India 2006.

Lomba antar mahasiswa merupakan ajang menarik untuk unjuk diri, apalagi jika lomba tersebut menyediakan hadiah yang menggiurkan. Di tingkat nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) setidaknya menyelenggarakan dua macam lomba, yakni Kontes Robot Indonesia (KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI). Para peserta lomba diberi tujuan yang harus dicapai oleh robot ciptaan mereka. Pemenang KRI/KRCI akan mewakili Indonesia dalam kancah Robocon Asia Pasifik.

Secara umum, lomba atau pertandingan bisa dibedakan menjadi dua macam:

  • Peserta berusaha mencapai hasil terbaik; mulai dari balap lari, menembak, hingga lari karung dan makan krupuk di acara tujuhbelasan :-) Siapa bisa mencatat hasil atau waktu terbaik itulah pemenangnya.
  • Peserta berhadapan satu sama lain untuk saling mengalahkan; mulai dari sepakbola, basket, catur, hingga main kartu remi. Jika pengin jadi pemenang, kalahkan lawanmu!

Ajang seperti TopCoder Collegiate Challenge dan Google Code Jam termasuk macam lomba yang pertama. Peserta diberi beberapa soal dan waktu untuk menyelesaikan soal tersebut dengan benar dan cepat. Kebenaran jawaban dan kecepatan menjawab menentukan berapa nilai yang diperoleh peserta. KRI/KRCI juga termasuk lomba macam ini.

Menurutku, lomba seperti itu kalah menarik dibandingkan dengan macam lomba yang kedua. Dasar aku penggemar sepakbola, aku sangat senang saat berkesempatan nonton FIRA European Championship Robosoccer 2005. Robot-robot kecil bermain sepakbola di lapangan kecil untuk mengalahkan lawan. Ada yang bermain ala kampung, satu bola dikeroyok banyak robot; ada yang mengandalkan kerjasama antar robot, satu mengumpan satu menyundul. Menarik sekali :-)

Sebagai pengajar di bidang informatika, aku mencari-cari: adakah lomba yang khusus ditujukan bagi mahasiswa informatika atau ilmu komputer? Bukan semacam TopCoder Collegiate Challenge atau Google Code Jam, tetapi lomba yang menghadapkan dua atau lebih program untuk saling mengalahkan.

Robosoccer, seperti yang aku tonton, adalah ajang unjuk diri yang lebih ditujukan buat mahasiswa informatika. Robosoccer tak menilai aspek elektro-mekanika, karena yang penting robot bisa bergerak sesuai program untuk memenangkan pertandingan. Robot tak perlu dibikin sendiri, boleh beli di pasaran asalkan spesifikasinya mematuhi aturan pertandingan. Robosoccer mengutamakan pada kecerdasan buatan: bagaimana robot-robot saling bekerjasama mencetak gol atau menghadang serangan lawan.

Sayang, Ditjen Dikti belum membuka kesempatan bagi mahasiswa informatika untuk ikut bersaing di ajang internasional seperti itu. Robosoccer (atau lomba lain semacam itu) tidak masuk agenda tahunan nasional :-( Maukah Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) mengusulkannya ke Ditjen Dikti? Ataukah, ada yang punya informasi atau gagasan lomba yang lain?

Aku punya gagasan: bagaimana jika diadakan suatu pertandingan program cerdas yang tak perlu mainan fisik (robosoccer perlu robot-robot kecil). Ketiadaan mainan fisik bertujuan memperlebar pintu akses bagi banyak mahasiswa. Asal punya komputer dan bisa memprogram, seorang mahasiswa bisa turut bertanding. Mulailah dari permainan yang sederhana, main kartu, misalnya. Banyak macam permainan dan tingkat kesulitan. Ambillah yang mudah dulu.

Umpama suatu permainan menghadapkan dua program peserta: A dan B, seperti pada gambar di bawah. Kedua program tersebut saling berhadapan melalui suatu program lain yang bertindak sebagai ajang pertandingan. Interaksi antara program peserta dan program ajang permainan dilakukan dengan mematuhi suatu protokol pertandingan. Protokol ini merupakan suatu protokol aplikasi yang dirancang sesuai dengan aturan permainan.


Pertandingan program cerdas

Supaya bisa ditonton oleh banyak orang, program ajang pertandingan menampilkan status dan pergerakan peserta melalui suatu layar monitor. Adalah tugas si program ajang pertandingan untuk mengatur kecepatan pergerakan peserta agar pergerakan bisa diikuti oleh mata manusia. Pertandingan yang selesai dalam waktu setengah detik tentulah tak asyik ditonton. Para penonton bisa menjadi saksi bila salah satu peserta bermain curang.

Setelah permainan yang sederhana, lalu naik ke permainan yang lebih rumit, misal: catur. Siapa tahu bisa lahir program catur bikinan anak negri yang bisa mengalahkan manusia, seperti halnya Deep Blue vs. Gary Kasparov. Kembali ke alinea pembuka di atas, sepertinya hal ini bukanlah hal yang mustahil.

Pertandingan program cerdas bisa menjadikan matakuliah kecerdasan buatan semakin berkembang dan semakin menarik. Bagaimana representasi pengetahuan tentang keadaan pertandingan? Bagaimana menerapkan algoritma cerdas untuk mencari strategi jitu mengalahkan lawan? Bagaimana cara membaca permainan lawan? Dan sebagainya.

Dalam mencari hasil optimal, komputasi program cerdas dikekang oleh ketersediaan waktu. Jelas tak menarik bila suatu program perlu waktu sehari semalam untuk menggeser satu bidak catur. Untuk menyiasati keterbatasan waktu, program mungkin perlu dijalankan di komputer paralel. Hmm… tantangan bagi mahasiswa yang suka komputasi paralel, nih :-)

Dibandingkan penyelenggara KRI/KRCI, misalnya, penyelenggara pertandingan seperti itu mempunyai tambahan pekerjaan, yakni menyiapkan protokol dan program monitor yang menjadi ajang pertandingan. Tapi demi kemajuan bersama, tentu hal tersebut semestinya bukan halangan. Aku yakin selalu ada mahasiswa yang bisa dan berminat merancang dan mengembangkan protokol aplikasi. Jika belum ada, kebutuhan akan protokol semacam itu bisa memotivasi mahasiswa untuk mengambil matakuliah sistem tersebar, rekayasa protokol dan sejenisnya.

Aku sudah urun gagasan. Siapa yang bersedia (bersama) mewujudkannya?

Posted in gagasan | No Comments »

Mengapa suatu perangkat lunak jadi terbuka dan gratis?

Posted by dirgahayu on July 31st, 2008

Tulisan ini dibuat pada tanggal 27 Oktober 2007.

Kemarin, saat jeda makan siang di workshop internal A-MUSE, aku berbincang dengan Maarten dan Jaap. Maarten mendapat kabar bahwa salah satu partner penyedia perangkat lunak transformasi ikv++ akan menjadikan perangkatnya medini QVT sebagai perangkat lunak terbuka (open source software) dalam proyek Eclipse. Dalam proyek A-MUSE,  medini QVT hendak digunakan sebagai salah satu perangkat pendukung bagi metodologi yang sedang kami kembangkan. Agar metodologi kami diterima banyak kalangan, sebisa mungkin kami menggunakan perangkat lunak pendukung yang mudah diakses oleh calon pengguna metodologi. Perangkat lunak terbuka atau bebas (free software) adalah salah satunya. Maarten menyambut gembira kabar tersebut.

Hal yang menarik bagiku adalah: mengapa ikv++ bersedia menjadikan medini QVT sebagai perangkat lunak terbuka? Lebih luas lagi, mengapa perusahaan pengembang perangkat lunak bersedia menjadikan produknya, yang tentu telah memakan banyak investasi, sebagai produk yang bisa diunduh gratis? Ada beberapa motivasi yang bisa kita kenali.

Satu. Watak bisnis bawaan perangkat lunak itu sendiri.
Suatu perangkat lunak bisa saja dibutuhkan tetapi pasarnya sempit. Ini terjadi pada kasus medini QVT, jelas Maarten dan Jaap. Siapa yang butuh perangkat lunak transformasi? Hanya pengembang perangkat lunak. Lebih sempit lagi, hanya pengembang perangkat lunak yang menerapkan pendekatan Model-Driven Architecture (MDA). Dalam suatu perusahaan pengembang perangkat lunak, tidak perlu satu perangkat lunak transformasi bagi masing-masing pengembang. Dari belasan atau puluhan pengembang yang dipunyai, suatu perusahaan mungkin menugaskan segelintir orang saja yang bergulat dengan permrograman transformasi. Pasar perangkat lunak transformasi teramat sempit.

Dengan pasar yang sempit seperti itu, apabila ikv++ tetap memaksakan medini QVT menjadi perangkat lunak komersial, maka medini QVT mau tak mau harus dijual dengan harga tinggi untuk menutup biaya pengembangan, melanjutkan pemeliharaan dan memberikan dukungan purnajual bagi para penggunanya. Dalam dunia perangkat lunak komersial, keberlanjutan pemeliharaan dan dukungan seperti itu menjadi taruhan reputasi si pengembang. Tetapi di sisi lain, harga yang tinggi akan semakin menyempitkan pasar medini QVT. Tidak menjual atau mengedarkannya sama sekali berarti sia-sialah usaha, biaya dan hasil pengembangan selama ini.

Menjadikan medini QVT sebagai perangkat lunak terbuka merupakan suatu katup penyelesaian. Investasi dalam bentuk pengembangan perangkat lunak tidak menjadi sia-sia karena perangkat lunak akan tetap hidup. Terbuka peluang medini QVT akan digunakan oleh siapa saja yang memerlukan. Dari sisi keberlanjutan produk, ikv++ tidak perlu bertanggungjawab sendirian memeliharanya. Serahkan saja atau bagikan tanggungjawab itu kepada komunitas pengembang perangkat lunak terbuka untuk melakukannya. Sementara itu, ikv++ bisa memperoleh citra sebagai perusahaan yang ramah terhadap komunitas. Anggap saja biaya investasi pengembangan yang sudah terlanjur keluar sebagai biaya pemasaran dan pembentukan citra perusahaan.

Bagaimana jika watak bisnisnya lebar? Tengok motivasi yang kedua berikut ini.

Dua. Sebagai cara mengikat pengguna.
JBoss Application Server (AS), misalnya, bisa diunduh gratis dan dikembangkan oleh komunitas. Siapa saja boleh menggunakannya. Begitu penggunanya (dalam hal ini suatu perusahaan) mempunyai banyak aplikasi yang berjalan di atas JBoss AS, maka perusahaan itu telah terikat dengan JBoss AS. Mau pindah atau migrasi ke perangkat lunak server lain? Biaya pindah, baik uang, tenaga maupun waktu, harus dihitung dengan cermat. Tak sekedar biaya pindah, tetapi juga biaya belajar perangkat lunak server baru. Bagi pengguna kelas enterprise, akan lebih murah dan mudah jika ia tetap memakai JBoss AS dan membayar biaya langganan dukungan resmi. Si pengguna dapat layanan setahun untuk pengeluaran yang, untuk hitungan Eropa, kurang lebih setara satu bulan gaji seorang tukang perangkat lunak (software engineer).

Lihat contoh lain. Adobe menyebarkan perangkat penampil dokumen PDF, Adobe Reader, secara gratis (meski bukan sebagai perangkat lunak terbuka). Kenapa? Karena Adobe ingin format PDF ciptaannya diterima secara luas sebagai tandingan format PS (PostScript). Adobe ingin mengikat pengguna atau pembaca dokumen dengan format PDF. Begitu para pengguna terikat dengan format PDF, mereka pasti ingin membuat sendiri dokumen berformat PDF. Keinginan ini dijawab Adobe dengan menjual perangkat lunak komersialnya yakni Adobe Acrobat.

Setidaknya itu dua motivasi mengapa perusahaan pengembang perangkat lunak menyediakan produknya secara gratis. Selalu ada motivasi bisnis di baliknya.

Posted in perangkat lunak | No Comments »

Selamat membaca…

Posted by dirgahayu on July 30th, 2008

Selamat datang di blog tempat aku menuliskan catatan-catatan tentang teknologi dan pendidikan. Dua hal yang menjadi minat dan pekerjaanku.

Tiga tulisan pertama merupakan tulisan pindahan dari blog-ku yang lain.

Selamat membaca…

Posted in sekenanya | 2 Comments »